I am Sorry!
October 2nd, 2008Kalimat seperti itu sepertinya akrab terdengar disaat-saat seperti ini, dan begitupun sebaliknya bagi pemberi maaf, mudah dan gampang untuk membuka pintu maaf untuk orang lain, tanpa melihat besar kecil, toh ukuran seperti itu sangat subyektif.
Bukan barang asing di telinga untuk mengucapkan maaf, meski urusan benar-benar memaafkan itu adalah urusan kebesaran hati masing-masing, dan sebulan penuh sebelumnya adalah tempat kita untuk menjadikan hati kita besar dan lapang serta ikhlas untuk memberi maaf.
Ditinggal bulan sebelum syawal itu memang membuat hati sebagian orang menangis, gemetar dan terduduk lesu, lantaran takut tidak dapat menemuinya ditahun-tahun mendatang, dan ketakutan terbesar adalah tidak termaafkannya segala bentuk dosa dan kesalahan.
Untuk itulah, saya mohon keihklasan sampean untuk memaafkan dosa dan kesalahan saya di hari-hari seperti ini meskipun permohonan maaf saya boleh dibilang telat, saya bukan manusia super yang tanpa bersinggungan kanan kiri, demikian juga semua yang ada disini, sekali lagi, saya gampang mengucap mohon maaf, dan berharap keikhlasan hati dan kebesaran hati sampean untuk memaafkan saya.

Singkat saja, setelah baca
Dibelahan dunia sana, ternyata kehidupan kantor berjalan sama, kadang, kenyamanan itu tidak bisa melulu dinilai dari seberapa besar transfer bulanan, ataupun seberapa seringnya hal itu terjadi, entah berupa transfer kejutan atau malah pengurangan yang kadang tanpa penjelasan.
Ekonomi tengah berada dalam ketidakpastian, entah bagaimana masa depan, seolah kita tak lagi punya kemampuan menatapnya, kekhawatiran malah membuahkan kecemasan.
Seorang teman bercakap kemarin sore, tentang apa yang terjadi dibalik demo mahasiswa yang marak dibeberapa surat kabar kemarin dan selalu berakhir dengan kericuhan.
Dulu, seorang teman selalu mengoloknya dengan kata “Kurnak”, bukan berarti sekarang nggak berlaku lagi.



